Kamis, 18 September 2014

jurnal umum

Jurnal Umum.  Sebelum kita membuat Jurnal umum, kita coba untuk terlebih dahulu mengetahui definisi dari Jurnal Umum. Pengertian Jurnal Umum adalah Jurnal (dalam bahasa Inggris Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit (Wikipedia).
Dari pengertian tersebut di ketahui bahwa prses siklus akuntansi dimulai pada pase Jurnal Umum ini. Jurnal umum juga biasa di kenal dengan istilah catatan harian berupa formulir yang berisi catatan aktifitas keuangan harian suatu perusahaan sesuai urutan tanggal transaksi.
Dalam kasus Ibu Rina pada artikel Contoh soal persamaan dasar akuntansi sebelumnya akan kita jadikan sebagai contoh kasus dalam Contoh Soal Jurnal Umum :
1/10/13 Ibu Reni menyetor uang tunai sebesar  100.000.000 sebagai modal awal membuat usaha Toko Sembako

Kas 100.000.000
Modal Usaha
 100.000.000
2/10/13 Ibu Rina mengontrak sebuah ruko kecil dengan sewa  5.000.000 pertahun dan langsung di bayarkan selama 5 tahun.

Sewa Dibayar Dimuka 25.000.000
Kas
 25.000.000
4/10/13 Ibu Rina melakukan pembelian etalase dan rak dalam melengkapi toko tersebut sebesar  10.000.000 yang di bayar tunai

Inventaris Toko  10.000.000
Kas
 10.000.000
6/10/13 Ibu Rina membeli sebuah Komputer dan meja kerja senilai  6.000.000 masing-masing 5.000.000 untuk computer di kredit dan 1.000.000 untuk meja yang di bayar tunai

Inventaris Kantor  6.000.000
Kas
 1.000.000
Utang Dagang
 5.000.000
7/10/13 Ibu Rina kembali melakukan pembelian barang dagangan sebesar  65.000.000 dengan rincian 40.000.000 di bayar tunai dan selebihnya di kredit.

Pembelian 65.000.000
Kas
 40.000.000
Utang Dagang
 25.000.000
9/10/13 Setelah buka ibu rina memperoleh pelanggan pertamanya dengan pembelian 1.500.000 di bayar tunai

Kas  1.500.000
Penjualan
 1.500.000
11/10/13 Ibu rina kembali menjual dengan penjualan yang banyak sekitar  5.000.000 di bayar tunai

Kas 5.000.000
Penjualan
5.000.000
12/10/13 Penjualan hari ini sebesar 10.000.000, namun 2.500.000 di lakukan secara kredit

Kas 5.000.000
Piutang Dagang 5.000.000
Penjualan
 10.000.000
14/10/13 Ibu Rina berhasil menjual lagi dengan penjualan sebesar 10.000.000 secara tunai

Kas 10.000.000
Penjualan
10.000.000
16/10/13 Ibu rina melakukan pembelian barang sebesar 20.000.000 dan membayar hutangnya sebesar  5.000.000

Pembelian 20.000.000
Utang 5.000.000
Kas
25.000.000
18/10/13 Ibu rina kembali menjual dengan nilai  10.000.000 dan kali ini hanya memperoleh penjualan tunai sebesar 2.500.000 dan selebihnya di kredit.

Kas 2.500.000
Piutang Dagang 7.500.000
Penjualan
10.000.000
20/10/13 Ibu Rina menjual lagi dengan penjualan sebesar 5.000.000 tunai.

Kas 5.000.000
Penjualan
5.000.000
21/10/13 Ibu Rina menerima piutang sebesar 5.000.000.

Kas 5.000.000
Piutang Dagang
5.000.000
23/10/13 Ibu rina kembali menjual  10.000.000 dan kali ini tunai sebesar  5.000.000

Kas 5.000.000
Piutang Dagang 5.000.000
Penjualan
10.000.000
25/10/13 Ibu rina membayar beban Listrik sebesar  150.000 dan Air sebesar  50.000

Beban Lsitrik 150.000
Beban Air 50.000
Kas
200.000
27/10/13 Ibu rina Melakukan pembelian sebesar 30.000.000 dan membayar hutangnya sebesar  5.000.000

Pembelian 30.000.000
Utang Dagang 5.000.000
Kas
35.000.000
29/10/13 Ibu Rina kembali memperoleh piutang sebesar  2.500.000

Kas 2.500.000
Piutang
2.500.000
30/10/13 Ibu rina kali ini berhasil menjual lagi sebesar  5.000.000 secara kredit

Piutang Dagang 5.000.000
Penjualan
5.000.000
Jika jurnal tersebut di atas dalam Kertas Jurnal Umum maka akan terlihat pada garbar berikut :
Contoh Soal Jurnal Umum
sumber : http://akuntansi-id.com/214-contoh-soal-jurnal-um

laporan keuangan

Keterbatasan Laporan Keuangan
Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasi
yang terdapat dalam laporan keuangan. Hal ini disebabkan laporan keuangan memiliki
keterbatasan, antara lain:
1.
Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau.
2.
Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. Biasanya
informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung
dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan saja.
3.
Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran.
4.
Hanya melaporkan informasi yang material.
5. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Apabila terdapat beberapa
kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka dipilih alternatif
yang menghasilkan laba bersih atau nilai aset yang paling kecil.
6.
Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa sesuai dengan substansi dan
realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya (formalitas).
7. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga
menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan
antar-bank.
D. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing
1.
Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah dengan menggunakan
kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, yaitu kurs tengah yang
merupakan rata-rata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul 16.00 WIB
setiap hari.
2.
Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing terdapat dua metode yang
dapat digunakan yaitu:
a.
single currency (satu jenis mata uang);
b.
multi currency (lebih dari satu jenis mata uang).
3. Pengertian dan karakteristik:
a.
Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan
langsung ke dalam mata uang dasar (base currency) yang digunakan yaitu mata
uang rupiah/Indonesian Rupiah (IDR).


Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut:
1)
neraca yang diterbitkan hanya dalam mata uang rupiah;
2)
saldo rekening dalam mata uang asing dicatat secara extracomptable;
3)
penjurnalan tidak menggunakan pos rekening perantara mata uang asing;
4)
penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan langsung per
rekening yang bersangkutan.
b.
Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan
langsung ke dalam mata uang asing asal (original currency) yang digunakan pada
transaksi tersebut.
Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut:
1)
neraca dapat diterbitkan dalam setiap mata uang asing asal (original currency)
yang digunakan;
2)
untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata uang, diterbitkan
neraca dalam base currency;
3)
penjurnalan menggunakan pos rekening perantara; dan
4)
penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan melalui
rekening perantara mata uang asing. Penjabaran ekuivalen rupiah dari
rekening-rekening tersebut hanya dilakukan dalam rangka pelaporan neraca.
4.
Pencatatan biaya dan pendapatan mata uang asing dilakukan sebagai berikut:
a. Jika menggunakan single currency
Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam Rupiah.
b. Jika menggunakan multi currency
1)
Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam mata uang
asal.
2)
Agar saldo biaya dan pendapatan mata uang asing tidak menimbulkan selisih
kurs revaluasi maka pada setiap akhir hari, saldo rekening biaya dan pendapatan
mata uang asing tersebut dipindahbukukan ke rekening biaya dan pendapatan
rupiah.

LAPORAN KEUANGAN DALAM AKUNTANSI


Tujuan laporan keuangan


Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan,
kinerja, perubahan ekuitas, arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi

pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan
pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan

kepada mereka.
2.

Tanggung jawab atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan.

3.
Komponen laporan keuangan

Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan
ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

4.
Bahasa laporan keuangan

Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. Jika laporan keuangan
juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia, maka laporan keuangan

dalam bahasa lain tersebut harus memuat informasi dan waktu yang sama (tanggal
posisi dan cakupan periode). Selanjutnya, laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut

harus diterbitkan dalam waktu yang sama dengan laporan keuangan dalam bahasa
Indonesia.

5.
Mata uang pelaporan

Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah. Apabila transaksi bank mengguna-
kan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan tersebut harus dijabarkan dalam

mata uang rupiah dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.

Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait dengan transaksi dalam
mata uang asing dinilai dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank

Indonesia.



6. Kebijakan akuntansi

Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua hal
yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK. Apabila PSAK belum mengatur

masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi
atau peristiwa, maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan

bahwa laporan keuangan menyajikan informasi:
a.

relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan;
dan

b.
dapat diandalkan, dengan pengertian:

1)
mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan;

2)
menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan

tidak semata-mata bentuk hukumnya;
3)

netral, yaitu bebas dari keberpihakan;
4)

mencerminkan kehati-hatian; dan
5)

mencakup semua hal yang material.
Manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan kebijakan akuntansi

yang memberikan informasi bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. Dalam
melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan:

a.
persyaratan dan pedoman PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah

terkait;
b.

definisi, kriteria pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, penghasilan dan
beban yang ditetapkan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan

Keuangan (KDPPLK); dan
c.

pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang
lazim sepanjang konsisten dengan huruf a dan b.

7. Penyajian
a.

Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan, perubahan ekuitas, dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b.

Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas, sedangkan
kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya.

c.
Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank, disajikan dan

diungkapkan secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan


istimewa dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Dalam
hal ini yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa termasuk

pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.
d.

Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya
yang dikelompokkan secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama bank

dan kegiatan lainnya.
e.

Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan
penyajian sesuai komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak

terpisahkan dari laporan keuangan. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan
berkaitan dengan pos-pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas yang

sifatnya memberikan penjelasan, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif,
termasuk komitmen dan kontinjensi serta transaksi-transaksi lainnya.

f.
Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata

“sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus
dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase.

g.
Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)
Perubahan estimasi akuntansi

Estimasi akuntansi dapat diubah apabila terdapat perubahan kondisi yang
mendasarinya. Selain itu, juga wajib diungkapkan pengaruh material dari

perubahan yang terjadi baik pada periode berjalan maupun pada periode-
periode berikutnya.

2)
Perubahan kebijakan akuntansi

Kebijakan akuntansi dapat diubah apabila:
a)

penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh
peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku;

atau
b)

diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian
kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan.

Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlakukan secara retrospektif
dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan mela-

porkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian.
Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup

diungkapkan alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku
apabila terdapat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar

akuntansi keuangan baru.



3)

Terdapat kesalahan mendasar
Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan

penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya
terhadap masa sebelum periode sajian.

h.
Pada setiap lembar neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan

perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan
merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”.

i.
Di samping hal-hal di atas, penyajian laporan keuangan bagi bank wajib mengikuti

ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia.